image
oleh Mega Simarmata

Dulu, pada periode pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Sby), posisi Kepala Badan Intelijen Negara dijabat oleh seorang purnawirawan TNI yang sangat kawakan, Syamsir Siregar namanya.

Syamsir Siregar lahir di Dumai, Riau, tanggal 23 Maret 1949.

Ia adalah seorang tokoh militer Indonesia yang menjabat Kepala Badan Intelijen Negara sejak 8 Desember 2004 hingga 22 Oktober 2009.

Syamsir lulusan Akademi Militer angkatan 1965 dan berasal dari kesatuan Infanteri – Kostrad.

Pangkat terakhir sebagai militer adalah Mayor Jenderal TNI dan jabatan terakhir di militer adalah Kepala Badan Intelijen ABRI.

Saat Syamsir menjadi Kepala BIN, ia mempunyai satu panggilan khusus dari saya yaitu Opung (yang artinya kakek dalam bahasa batak).

Panggilan Opung untuk Syamsir Siregar ini, akhirnya menjadi panggilan dari semua orang untuk Syamsir Siregar.

Maksudnya, sampai ke kalangan menteri-menteri, dan bahkan didalam internal BIN pun, kabarnya memanggil Syamsir pun dengan sebutan Opung.

Kebetulan saya adalah wartawati di lingkungan Istana Kepresidenan selama 9 tahun lamanya, yaitu dari tahun 1999-2008.

Jadi, mau tak mau, pejabat selevel Kepala BIN pun, akan saya kenal.

Sebab selain meliput di lingkungan Istana Kepresidenan, saya juga rutin selama bertahun-tahun, meliput di jajaran Kementerian Polhukkam, yang kala itu dipimpin oleh Widodo AS (mantan Panglima TNI).

Sejak Widodo menjadi Panglima TNI, saya sudah sangat dekat beliau.

Syamsir dan Widodo cukup erat dan sangat dekat.

image

Pada suatu hari, Syamsir mengundang 2 wartawati Istana yang sudah dikenalnya. Salah seorang diantaranya adalah saya.

Secara kebetulan juga, saya dan rekan wartawati yang diundang Syamsir waktu itu, sama-sama merupakan wartawati di lingkungan militer sejak era tahun 90 an.

Kami berdua diterima di ruang kerja Kepala BIN.

Pak Syamsir Siregar, alias si Opung ini, cara bicaranya sangat slebor alias sangat bergaya Medan.

“Opung, bagaimana situasi disini? Apa yang Opung bikin sama anak buah Opung disini ?” tanya saya waktu itu.

“Biasa ajalah. Tapi kumarahi mereka kalau berani-berani kirim sms ke handphone ku melaporkan panjang lebar situasi di lapangan. Langsung ku telepon, siapa aja yang kirim-kirim sms. Kubilang sama mereka … kau pikir kalau ada yang aku tak ngerti dari sms kalian ini, aku harus tanya ke handphone ku ini? Kalau ada laporan, telpon saya” begitu cerita Syamsir.

Sejak saat itu, tidak ada lagi bawahannya, termasuk setingkat Deputi atau Direktur, yang berani mengirim sms kepada Syamsir.

“Soal Munir, bagaimana Pung?” tanya kawan saya, sesama wartawati yang bekerja di stasiun televisi swasta.

Syamsir terdiam agak lama.

Tiba-tiba dia berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil sebuah majalah berita mingguan dan cover majalah itu memasang foto Almarhum Munir.

“Kupanggil Deputi aku soal si Munir ini. Begitu dia duduk di depanku, kusuruh dia baca majalah ini. Habis itu kutanya, apa yang bisa kau jelaskan sama aku soal si Munir ini?” tutur Syamsir menceritakan kejadian ia memanggil seorang Deputi BIN terkait kasus Munir.

“Dia diam aja. Tak di jawabnya apa-apa. Dia tak mau buka apapun. Dia tak mau sebut nama siapapun yang memerintahkan. Akhirnya kubilang sama dia. Susun barang kau. Mulai besok, jangan lagi kau ngantor sampai selesai kasus ini” kata Syamsir.

Setelah Syamsir menceritakan hal itu, kawan saya, wartawati yang ikut bersama saya bertamu ke ruang kerja Kepala BIN, melanjutkan pertanyaannya.

“Gimana dengan Pak Hendropriyono ?” tanya kawan saya itu.

Syamsir juga terdiam agak lama ketika pertanyaan masuk sampai ke nama Hendropriyono.

“Si Hendro? Datang dia kemarin. Dia telpon telpon aku, Bang minta waktu ketemu. Gitu katanya. Dia mohon mohon supaya bisa ketemu aku. Silahkan kubilang. Duduk dia disitu. Di pojok itu. Kuterima. Kalau memang dia mau ketemu, silahkan.” jawab Syamsir.

“Hendro terlibat ?” tanya kawan saya itu lagi.

Syamsir Siregar diam membisu.

Samasekali tidak menjawab pertanyaan ini. Raut wajah Syamsir tidak berubah alias tanpa ekspresi.

Itulah satu-satunya pertanyaan dari kawan saya yang tidak dijawab oleh Syamsir saat Kepala BIN ini mengundang dua wartawati datang bertamu ke ruang kerjanya.

Dan sepanjang Syamsir Siregar menjadi Kepala BIN, ia memang sangat dihormati oleh seluruh jajaran menteri, termasuk Panglima TNI, Kapolri dan pejabat di dalam pemerintahan Sby.

Sebab, dari segi angkatan, Syamsir terbilang sangat senior yaitu angkatan tahun 1965.

Tapi dari seluruh anggota kabinet Sby pada periode pertama, Syamsir hanya dekat dengan dua orang yaitu Widodo AS dan Mendagri M. Maruf.

Diluar dari kedua pejabat ini, tak ada yang berani sama Syamsir.

Semua takut dan semua segan.

Itulah sebuah kenangan tentang percakapan di ruang kerja seorang Kepala BIN, yang kala itu dijabat oleh seorang purnawirawan TNI yang sangat jagoan, Syamsir Siregar namanya.

Si Opung yang alergi kalau membaca sms dan kalau sudah sangat terpaksa untuk membalas sms itu, Syamsir akan membalas beberapa hari kemudian.

Sampai saat ini, pertanyaan kawan saya itu tak terjawab ….

Jakarta, Mei 2014