Tag

, , , , ,

image

“Kelihatannya kamu ragu dan setengah hati menjalankan amanah ini,” ujar Pak Arif atau yang biasa saya sapa dengan Om Arif, kepada saya sekitar enam bulan lalu. Om Arif menyampaikan pendapat itu sehabis kami berdiskusi tentang masa depan bangsa dan rencana saya ke depan.

Tanpa sadar saya termenung memikirkan ucapan Om Arif itu. Hati saya memang terasa bimbang ketika akan memutuskan jalan atau cara mana yang saya tempuh dalam menghabiskan sisa umur hidup saya ke depan, sekaligus memberi kontribusi maksimal untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta.

“Saran saya sebaiknya kamu menemui seseorang yang dapat kamu percaya pendapat dan pertimbanganya,” ujar Om Arif tiba – tiba menghentikan lamunan saya. Om lalu menyebutkan nama orang yang dia maksud. Saya mengiyakan dan segera mohon pamit.

Orang yang saya datangi untuk meminta nasihat sebenarnya masih punya hubungan keluarga dekat. Saya menemuinya dan minta nasihatnya. Jawabannya sungguh di luar dugaan. Beliau menyarankan saya untuk bersedekah kurban seekor kerbau yang sebaiknya dilaksanakan satu minggu ke depan dan di kampung halaman ibu kandung saya di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat.

Berangkat Ke Kampung Halaman

Seminggu kemudian saya dari Jakarta berangkat ke Padang. Setiba disana, saya menghubungi teman untuk membantu mencari seekor kerbau yang akan disembelih sebagai kurban. Namun, menurut teman itu mencari kerbau untuk dibeli tidak mudah. Di samping jarang ada pemilik yang menjual kerbaunya, pasar ternak umumnya hanya buka pada hari tertentu setiap minggu. Tidak buka setiap hari. Meski begitu, kami berdua tetap berusaha mencari kerbau di Padang untuk dibawa ke Maninjau. Usaha kami tidak berhasil dan kami memutuskan untuk mencari sambil jalan menuju ke Maninjau yang berjarak sekitar 3-4 jam dari Padang dengan mengendari mobil.

Sepanjang jalan ke Maninjau tidak terlihat seekor kerbau pun. Ketika melewati pasar atau perternakan warga, kami berhenti untuk mencari informasi dan bertanya apakah ada tersedia kerbau untuk dijual. Hasilnya nihil.

Tidak terasa kami sudah mulai masuk jalan menurun ke Danau Maninjau. Sementara kerbau yang dicari belum juga ketemu. Saat itu bulan puasa Ramadhan, warung dan rumah warga hampir semuanya tutup. Sulit menemui orang untuk ditanyakan.

Sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di simpang tepi danau Maninjau, mobil terus melaju belok kiri ke arah Sungai Batang, kampung halaman ibu saya. Tidak lama kemudian kami sampai di rumah keluarga saya yang persis di depan mesjid dan bersebelahan dengan rumah keluarga Buya Hamka. Kampung halaman almarhumah ibu saya yang sudah selama 7 tahun terakhir saya tidak mengunjunginya. Terasa perasaan bersalah dan berdosa mengingat begitu lamanya saya tidak berkunjung kesini. Saya lebih sering datang atau pulang kampung ke Candung, Bukit Tinggi, tempat asal dan tanah kelahiran ayah.

Nenek dan Buya Hamka

Keluarga kami dan Keluarga Buya Hamka memang bertalian saudara dekat. Menurut cerita almarhumah nenek saya, Buya Hamka kecil sering main dan makan di rumah kami. Buya Hamka semasa kecilnya tidak beda dengan bocah lainnya. Nenek suka bercerita bagaimana Buya Hamka semasa kecil suka mencuri garam di dapur kami dan menyembunyikannya di dalam kopiah/peci di atas kepalanya. Buya Hamka kecil sering bersembuyi di rumah kami ketika dia dicari – cari ayahnya untuk menemani ayahnya ke pekan (pasar) atau jika sedang dimarahi dan hendak dihukum. Rumah kami persis di depan danau Maninjau. Buya kecil suka bermain di danau dengan tenan – teman sebaya termasuk dengan nenek saya. Di kalangan anak – anak Nagari Sungai Batang, tepi danau Maninjau bermain, mandi dan menangkap ikan di danau adalah sudah menjadi rutinitas sehari – hari di samping memungut cengkeh dan buah pala di kebun yang pada masa itu masih tumbuh subur. Namun, ada satu pantangan atau larangan bagi anak – anak yaitu tidak boleh bermain di danau saat suara azan berkumandang. Terutama saat dzuhur, ashar dan magrib. Anak – anak harus keluar dari danau. Buya kecil sering melanggar pantangan itu, karenanya dia acap kali dicari – cari ayahnya untuk dihukum. Takut dengan hukuman cambuk rotan dari sang ayah, buya kecil sering bersembunyi di rumah kami.

Keluarga kami di Maninjau terutama Ibu dari nenek kami cukup dikenal karena dianggap masyarakat setempat mempunyai kemampuan membantu menyembuhkan orang sakit, mengangkat orang yang tenggelam di danau, menemukan orang yang hilang dan sejenisnya. Nenek saya sering mendongengkan tentang ibunya yang disebut – sebut bisa menghilang, masuk ke dasar danau, punya piaraan harimau yang biasa ditungganginya jika pergi ke Bukit Tinggi atau tempat lain. Nenek bilang ibunya punya rambut panjang bergulung tiga, berpantang makan ikan, daging dan semua yang bernyawa. Benar atau tidak, saya tidak tahu karena saya tidak pernah bertemu dengan nenek buyut saya itu.

image

Mencari Kerbau Kurban

Setiba di rumah, kami segera minta bantuan kerabat saya yang menempati rumah keluarga, untuk mencari kerbau kurban. Sayangnya, menurut beliau usaha itu akan sulit berhasil karena sangat jarang orang memelihara kerbau di daerah Maninjau. Satu – satunya cara harus mencari ke pekan (pasar) pada esok pagi. Daerah Maninjau bukan daerah pertanian / persawahan, sehingga kerbau adalah hewan yang cukup sulit ditemukan. Berbeda dengan sapi yang cukup banyak dipelihara warga Maninjau dan sekitarnya. Apalagi kebutuhan kerbau itu harus cepat karena acara kurban akan dilakukan keesokan harinya, yang ternyata tanpa saya sadari bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan.

Sementara hari mendekati magrib dan kami pun beranjak keluar mencari kedai / restoran untuk berbuka puasa. Setelah berbuka puasa di sebuah restoran terkenal di tepi danau Maninjau, kami segera bertanya – tanya kepada warga yang ditemui di mana kami bisa membeli seekor kerbau untuk kurban. Tetapi usaha kami masih temui jalan buntu.

Entah kenapa ketika menuju arah balik ke Sungai Batang, saya tiba – tiba ingin mampir di hotel tepi danau simpang tiga. Sampai di hotel, terlontar begitu saja pertanyaan dari mulut saya ke receiptionis hotel dimana kami bisa membeli kerbau untuk kurban besok pagi. Awalnya receiptionis hotel wanita berusia 30an yang mendengar pertanyaan saya itu tertawa terbahak – bahak. “Hahaha abang ini ada – ada saja. Masak cari kerbau malam – malam begini. Mana ada orang yang jual kerbau di sini, malam – malam lagi,” jawabnya sambil tertawa geli. Namun tawa perempuan itu berhenti ketika melihat wajah kami yang serius. “Benar nih Bang? Untuk apa Bang ?,”tanyanya kepada saya. Saya menjelaskan singkat dengan beri alasan bahwa ini adalah untuk menjalankan niat atau nazar saya. Sejenak dia berfikir dan lalu dia katakan akan mencoba bertanya kepada pamannya yang tinggal di Matur, sekitar 20 km di atas Maninjau. Segera ditelpon pamannya itu, ternyata ada satu ekor kerbau yang mau dijual dengan syarat harus bayar tunai malam itu juga. Kami terperanjat dan tidak menyangka sama sekali. Pamannya bilang harga kerbau tersebut tidak boleh ditawar dan sudah termasuk ongkos kirim ke Sungai Batang. Alhamdulillah. Malam itu juga kerbau kurban diantar ke Sungai Batang dari Matur. Tiba – tiba saya teringat almarhum kakek saya yang asli berasal dari Matur dan datang ke Sungai Batang untuk mempersunting nenek saya puluhan tahun yang lalu.

image

Keeskokan harinya tepat jam 9 pagi, kerbau kurban pun disembelih. Ketika ninik mamak, kerabat dan warga setempat bertanya maksud dan tujuan saya untuk berkurban kerbau pada hari yang bertepatan dengan Nuzulul Quran, saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya jawab saja sekenanya bahwa saya berkurban untuk menjalankan niat. Tidak mungkin saya menceritakan sebab musabab kenapa saya berkurban kerbau pada 17 Ramadhan (yang saya juga tidak menyadari pada awalnya).

Alhamdulillah, dengan jawaban seadanya itu, akhirnya keluarga besar, tetangga dan warga Sungai Batang dapat menerima dengan ikhlas, terutama ketua suku kami, yang biasa dipanggil dengan sebutan ‘Macan'(berasal dari kata Mak Can).

Setelah selesai acara kurban, kami berkumpul bersama di rumah Macan. Ngobrol kesana kemari hingga akhirnya Macan berkisah tentang Buya Hamka. Kakek kami, Ulama besar Indonesia yang telah berpulang ke Rahmatullah sekitar 33 tahun lalu, tepatnya 21 Juli 1981. Buya dilahirkan di rumah kampung sebelah rumah kami di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908, 104 tahun yang lalu.

image

Mengenang Kakek Buya Hamka

Tradisi budaya Minang yang matrilineal atau mengikuti garis Ibu memang unik dan langka di dunia ini. Meski demikian, sejarah dari garis Bapak/Ayah tetap menjadi pedoman untuk mengetahui silsilah keluarga.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal sebagai Buya Hamka, putra asli Minangkabau. Nama kecilnya adalah Abdul Malik, sedangkan
Karim berasal dari nama ayahnya, Haji Abdul Karim dan Amrullah adalah
nama dari kakeknya, Syeikh Muhammad Amrullah.

Hamka seorang ulama multi dimensi, hal itu tercermin dari gelar-gelar
kehormatan akademis yang disandangnya. Buya juga bergelar “Datuk Indomo” yang dalam tradisi Minangkabau berarti pejabat tinggi pemelihara adat istiadat. Dalam pepatah Minang, ketentuan adat yang harus tetap bertahan abadi yang dituangkan dengan pepatah, “sebaris tidak boleh hilang, setitik tidak boleh lupa”.

Gelar Datuk Indomo merupakan gelar pusaka turun temurun pada adat Minangkabau yang didapatnya dari kakek dari garis keturunan ibunya; Engku Datuk Rajo Endah Nan Tuo, Penghulu suku Tanjung.

Sebagai ulama Minang, Buya Hamka digelari “Tuanku Syaikh”, berarti ulama
besar yang memiliki kewenangan sebagai anggota tetap di dalam rapat adat dengan jabatan Imam Khatib menurut adat Budi Caniago.

Sebagai pejuang, Buya Hamka memperoleh gelar kehormatan “Pangeran Wiroguno” dari Pemerintah RI. Sedangkan sebagai intelektual Islam, Buya Hamka memperoleh penghargaan gelar Doktor “Ustadzyyah Fakhryyah” (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar, Mesir, pada Maret 1959.

Pada 1974 gelar serupa diperolehnya dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Pada upacara wisuda di gedung parlemen Malaysia, Tun Abdul Razak, Rektor Universitas Kebangsaan yang waktu itu menjabat sebagai Perdana Menteri menyebut Buya yang ulama karismatik itu dengan sebutan “Promovendus Professor Doctor Hamka”.

Ayah Hamka bernama Muhammad Rasul, pada masa mudanya lebih dikenal
dengan sebutan Haji Rasul. Setelah menunaikan ibadah haji beliau mengganti
namanya dengan Abdul Karim lalu melekat pada namanya gelar Tuanku.
Lengkaplah nama ayah Hamka itu menjadi Tuanku Syeikh Abdul Karim bin
Amrullah. Beliau adalah pelopor gerakan pembaharuan Islam (tajdid) di
Minangkabau.

Muhammad Rasul terlahir pada Ahad, 17 Safar 1296 H/10 Februari 1879 M di
Kepala Kebun, Betung Panjang, Nagari Sungai Batang, Maninjau, Minangkabau,
Luhak Agam, Sumatera Barat.

Haji Muhammad Rasul adalah putera seorang ulama berpengaruh di Nagari Sungai Batang yang kemudian lebih dikenal sebagai wilayah Nagari Danau (Maninjau) bernama Syeikh Muhammad Amrullah.

Yang sangat menarik adalah bahwa Syeikh Muhammad Amrullah yang bergelar
Tuanku Kisa-i adalah pengikut kuat mahdzab Safi’i yang memimpin Thariqat
Naqsyabandiyah di Minangkabau. Kaifiyat (tata cara peribadatan) yang
diberlakukan dalam aliran-aliran thariqat, misalnya ajaran “Rabithah” yang
mewajibkan pengikutnya “menghadirkan” sosok guru dalam ingatannya
sebelum memulai menjalankan suluk, mendapat tentangan keras Haji Rasul
yang meyakininya sebagai bid’ah.

Hebatnya, walau berseberangan dalam pemahaman agama, hubungan ayah anak tetap berlangsung dengan harmonis dan mesra. Selain Haji Rasul adalah putera kesayangan Tuanku Kisa-i, Sang Ayah menghormati dan mencintai anaknya Haji Muhammad Rasul.

Pertentangan antara “Kaum Tua” dengan “Kaum Muda” seperti itu sebenarnya telah berlangsung hampir satu abad lamanya, ditandai dengan dimulainya gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau yang dipelopori Haji Miskin dan tujuh orang ulama Minang lainnya yang termasyhur dengan julukan “Harimau Nan Salapan”.

Gerakan pembaharuan Islam ini dipengaruhi kemenangan gerakan Salafiyah pada abad ke 18 di Timur Tengah yang didirikan oleh Syeikh Muhammad bin Abdil Wahab yang bertujuan memurnikan kembali agama Islam dari bid’ah, yakni amalan-amalan ibadah yang tidak pernah diajarkan dan dipraktekan Rasulullah S.A.W.

Haji Miskin yang berasal dari Pandai Sikat (Luhak Agam), beserta dua orang
ulama seangkatannya yakni Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima
Puluh) dan Haji Muhammad Arif dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) pada
masa awal gerakan pembaharuan Islam itu sedang berguru di Mekah. Pada
1802, mereka kembali ke Minang dan mensosialisasikan gerakan pembaharuan Islam yang mereka peroleh selama belajar di Mekah.

Bersama lima orang ulama yang kemudian mendukungnya sehingga mereka dijuluki Harimau nan Salapan, Haji Miskin beserta pengikut-pengikutnya itulah yang kemudian dikenal sebagai “Kaum Paderi” yang menempati posisi penting dalam sejarah perjuangan di masa penjajahan Belanda. Di antara delapan ulama pemimpin Paderi, yang paling menonjol karena sikapnya yang tegas dalam berdakwah adalah Tuanku Nan Renceh. Beliau inilah yang pertama kali mengobarkan semangat perlawanan kepada kolonial Belanda.

Pada 1901, yakni seratus tahun setelah kembalinya Haji Miskin dari Mekah
yang melahirkan gerakan pembaharuan Islam di Minang, Haji Rasul pun kembali
dari Mekah ke kampung halaman membawa semangat serupa hingga mencapai
puncaknya dengan didirikannya perguruan Sumatera Thawalib.

Garis keturunan Buya Hamka ke atas memang dipenuhi para tokoh pejuang agama dan pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia. Benteng pertahanan utama adalah “Adat bersendikan syara’ (agama), agama bersendikan kitabullah (Al Quran) sehingga pengaruh atau kekuasaan dari luar hanya bisa masuk menembus ranah dan budaya Minang jika sesuai dengan adat dan budaya Islam.

Itulah sebab kenapa rencana pembangunan Rumah Sakit Siloam oleh Lippo Grup yang dikenal sebagai milik James Riady, misionaris utama kristen evangelis, kader tercinta dari tokoh anti islam AS Pat Robertson, ditentang keras oleh masyarakat Minangkabau. (Bersambung).