Tag

, , , , ,

image
Pencerahan atau enlightenment atau aufklarung yang dimaksud disini bukan dalam pengertian sebagai arus utama pemikiran yang berkembang di eropa pada abad 16 pertengahan, melainkan adalah sumbbangan atau kontribusi pemikiran, penyebaran informasi, sikap kritis, koreksi dan gerakan perlawanan terhadap kezaliman, kewenang – wenangan, kejahatan, korupsi, ketidakadilan, kemunafikan dan kesalahan oleh atau dari satu atau lebih kebijakan mau pun dari sikap dan perilaku para pejabat dan pemimpin bangsa.

Aksi pencerahan didasarkan pada kesadaran anak bangsa terhadap kondisi riel bangsa dan negara yang sangat mengkhawatir karena bobroknya moral dam integritas para pemimpin / tokoh bangsa. Tidak ada keteladanan, yang tersisa hanya tontonan menyebalkan membikin muak rakyat dengan korupsi, kemunafikan dan gaya hidup hedonis lebay narsis. Hampir semua elit bangsa tidak peduli dengan nasib rakyat atau negara ini. Mau hancur atau terjerumus ke jurang tidak pernah dipedulikan.

Kondisi bangsa makin parah karena orang – orang baik tidak peduli. Sebagian karena memang apatais, sebagian lagi karena takut baik karena faktor keselamatan atau karena takut tidak populer. Sangat langka tokoh baik yang berani mengkoreksi kondisi bangsa yang rusak atau opini sesat yang mewabah. Takut berbeda dengan arus utama opini meski mereka tahu opini itu salah dan hanyalah hasil rekayasa dari para mafia media dan kapitalis.

Sungguh menyedihkan nasib bangsa ini. Reformasi tidak berjalan di jalur yang benar dan arah yang tepat. Entah kemana tujuannya. Demokrasi barat diadposi total bahkan menjelma menjadi demokrasi liberal yang lebih liar dibanding dengan demokrasi di negara barat sendiri. Harapan satu – satunya hanyalah pada penegakkan hukum yang semula diharapkan dapat menjadi pengendali dan mencegah semua ekses negatif dari kebebasan yang diperoleh sebagai hasil reformasi 1998. Celakanya, penegakan hukum pun hancur berkeping – keping, aparat hukum lebih korup, mafia hukum dimana – mana di semua sektor kehidupan masyarakat. Keadilan jauh terbang tinggi ke langit tak tergapai oleh mayoritas rakyat kecil.

Pertumbuhan ekonomi RI yang diagung – agungkan sebagai nomor dua tertinggi di dunia, ternyata tidak membawa kesejahteraan rakyat banyak. Pertumbuhan ekonomi Indonesia semu, artifisial, dan hanya dinikmati oleh segilitir orang yang notabene adalah para konglomerat dan pejabat. Distribusi ekonomi dan kesejahteraan sangat timpang. Reformasi malah memberikan kesempatan luas bagi musuh – musuh reformasi menjadi makin kaya dan makin berkuasa. Sementara rakyat banyak hanya menonton geram tak mampu berbuat apa – apa karena tidak berdaya.

Kondisi bangsa tersebut di atas yang menjadi concern utama aksi pencerahan. Membangun kesadaran rakyat tentang masa depan negara dan keutamaan untuk bersikap jujur, berani, cinta tanah air serta mengutamakan nilai – nilai luhur bangsa yang terkandung dalam butir – butir Pancasila, yang kita sudah lama tinggalkan sebagai ideologi dan pandangan hidup berbangsa dan bernegara.

Jika aksi pencerahan ini kemudian dianggap sebagai pembusukan oleh tokoh sekaliber Yusril Ihza Mahendra, mungkin ada yang salah dari cara pikir dan sikap beliau, atau ketua majelis Syuro Partai Bulan Bintang ini hanya mau mengalihkan substansi dari rencana besar yang dia lakukan bersama – sama SBY menggagalkan pemilu 2014 mendatang. Yusril sah – sah saja mengajukan gugatan UU Pilpres, berkonsekwensi diselenggarakannya pemilu – pilpres serentak. Semua argumentasinya masuk akal, tetapi apakah urgent ditetapkan atau diberlakukan pada tahun ini juga seandainya gugatan YIM itu dikabulkan oleh majelis hakim Mahkamah Konstitusi, mengingat semua persiapan untuk pemilu tanggal 9 April 2014 sudah matang dan seluruh rakyat siap melaksanakannya.

Hukum itu tidak statis tetapi dinamis. Hukum tidak sekedar apa yang tertulis di konstitusi, undang – undang dan peraturan lainnya. Hukum itu dinamis dan hidup ditengah – ditengah masyarakat dan hati nurani rakyat. Hukum harus mampu mewujudkan keadilan sekaligus mewakili rasa keadilan yang berkembang sesuai dengan jaman. Hukum juga harus mengedepankan kepatutan dan etika agar hukum itu tidak kehilangan makna dan menjadi menara gading di tengah – tengah rakyat.

Pencerahan dituduh YIM sebagai pembusukan politik, lalu apa lagi yang harus kita lakukan agar dapat dinilai YIM sebagai pencerahan? Apakah harus bangun deal – deal rahasia dengan presiden terlebih dahulu, ajukan gugatan ke MK dan persiapkan sistem politik / pemerintahan baru, itu disebut pencerahan ?

Kesimpulannya, mending kami fokus dengan nilai – nilai yang kami yakini, tetap konsiten membangun karakter bangsa dan terus melawan kemungkaran yang melanda bak tsunami di seluruh sektor kehidupan negeri ini. Bagaimana Bang Yusril ? CKR ?