Tag

, , ,

image
Jembatan Selat Sunda Siapa Yang Tak Butuh ? Siapakah bisa membantah fakta terjadikemacetan panjang kendaraan sampai 26 kilometer dari mulut dermaga penyeberangan Merak sampai mengular di jalan tol Merak – Jakarta setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Fitri ?

Siapakah bisa membantah fakta kemacetan itu menimbulkan rasa menyiksa berkepanjangan, kadang lebih dari 48 jam, yang dialami oleh para penumpang yang ingin menggunakan fery penyebrangan Merak – Bakauheni ?

Siapakah yang bisa membantah pemborosan yang ditimbulkan oleh setiap peristiwa kemacetan yang sering dijuluki warga Merak, Serang, Banten sebagai konvoi kendaraan terpanjang sedunia itu ?

Siapakah yang merasakan semua derita dan kerugian itu ? Ketika pertama sekali rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dibahas serius di tahun 1960an, semua pihak yang terlibat dalam rencana proyek itu menyadari bahwa moda transportasi laut dalam hal ini kapal ferry tidak mungkin mampu memenuhi kebutuhan transportasi kendaraan, orang dan barang pada masa mendatang.

Pertumbuhan ekonomi yang dikuti dengan pertumbuhan jumlah kendaraan dan jumah manusia di Pulau Jawa dan Sumatera dipastikan membutuhkan moda transportasi yang lebih cepat, ekonomis, efisien, aman dan nyaman. Kebutuhan tersebut hanya dapat dipenuhi oleh pembangunan JSS sebagai moda trasportasi utama antara dua pulau dan tetap mempertahankan moda trasportasi ferry sebagai pendukung sekaligus alternatif bagi pelintas pulau sebagai pengguna jasa. Artinya, dengan ketersediaan dua moda transportasi itu, konsumen memliki kebebasan memilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

Hampir 50 tahun berlalu rencana pembangunan JSS itu masih dalam bentuk tuangan di atas kertas. Tidak ada progres dari rencana sebagai implementasinya. Kebutuhan tersedianya dana yang sangat besar menyebabkan rencana yang dimatangkan sejak puluhan tahun yang lalu itu tetap tidak terwujud. Pemerintah Indonesia sampai pada hari ini tidak mungkin mampu membangun JSS karena keterbatasan dana pembangunan. Meski jumlah APBN 2013 sudah mencapai Rp. 1.600 triliun, namun dari total jumlah tersebut masih sangat minim yang merupakan bagian dari anggaran pembangunan infrastruktur yang dapat digunakan untuk membiayai JSS yang diperkirakan akan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 120 – 150 triliun. Pemerintah Indonesia tidak mungkin menggunakan dana APBN untuk membiayai pembangunan JSS. Struktur atau komposisi APBN Indonesia masih didominasi oleh peruntukan biaya rutin seperti gaji dan belanja pegawai, pembayaran utang pemerintah yang terdiri dari luar negeri, utang domestik, utang BLBI dan utang lain berikut dengan bunganya yang mencapai ratusan triliun per tahun. APBN Indonesia masih terbebani biaya subsidi energi dan listrik, biaya subsidi pupuk dan ketahanan pangan, biaya subsidi untuk kewajiban pelayanan publik (public service obligation /PSO), biaya subsidi bunga untuk pengembangan usaha koperasi dan UMKM dan biaya subsidi – subsidi lainnnya.

APBN Republik Indonesia harus mengutamakan alokasi anggaran untuk daerah -daerah seluruh Indonesia baik pemerintah propinsi, daerah otonom, daerah khusus dan daerah istimewa. Termasuk juga dana hibah, bagi hasil dan perimbangan pusat – daerah. Dengan kata lain, APBN tahun 2014 sampai setidaknya sepuluh tahun mendatang mustahil menyisihkan sebagian portofolionya untuk membiayai proyek JSS. Pembiayaan proyek JSS melalui skema utang pemerintah juga mustahil dilakukan karena akan semakin memperbesar defisit APBN terhadap PDB (product domestic bruto). Keadaan ini akan semakin melemahkan ketahanan ekonomi nasional dan sangat riskan ditempuh sebagai solusi pembiayaan proyek JSS. Sementara itu, urgensi keberadaan jembatan pemyeberangan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera itu semakin mendesak.

Peningkatan pengguna jasa ferry penyeberangan Merak – Bakauheni setiap tahun semakin besar. Jumlah mobil pribadi, truck, bus dan sepeda motor serta orang dan barang yang diangkut awalnya 41 kapal ferry kian tidak terlayani. Dari 41 kapal ferry itu pun hanya 25 – 30 unit kapal yang dapat dikatakan bisa beroperasi dengan baik. Penambahan unit kapal dan dermaga penyeberangan selain membutuhkan biaya yang sangat besar, juga kurang diminati investor swasta. Sedangkan BUMN PT. ASDP dan Pemerintah tidak memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pengadaan kapal dan dermaga tambahan tersebut. Disamping itu, semua ahli transportasi sepakat, jika volume kendaraan dan manusia yang diangkut kapal ferry antar pulau sudah melebihi 1 juta kendaraan atau 5 juta orang per tahun, moda transportasi ferry sudah tidak lagi memadai dan ideal. Kondisi riel volume penumpang Merak – Bakauheni saat ini sudah lebih 6 juta penumpang per tahun dan kendaraan lebih 1 juta unit per tahun. Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya. Bahkan pada saat menjelang lebaran jumlah kenderaan sudah lebih 10.000 unit per hari dan jumlah penumpang sudah lebih 100.000 orang. Mobilisasi kendaraan dan manusia sebanyak itu sudah tidak lagi ideal untuk dilayani moda kapal ferry.

Terlalu banyak kapal ferry yang dibutuhkan dan terlalu banyak dermaga penyeberangan yang harus dibangun. Dampak sosial ekonominya akan cenderung destruktif dan riskan bilamana terjadi kerusakan pada kapal ferry pengangkut dan fasilitas dermaga. Dalam 10 tahun ke depan, jumlah kendaraan dan penumpang akan melonjak tajam lebih dari 100%. Kapal ferry yang tersedia tak akan mampu melayani semua konsumen dan dipastikan akan menciptakan ledakan kemacetan yang sangat parah dan membahayakan secara sosial, ekonomi dan politik. Dengan volume 100.000 orang penumpang dan 10.000 unit kendaraan yang akan melintasi selat Sunda seperti saat ini, kapal ferry dan dermaga Merak – Bakauheni sudah tidak mampu melayani dan menimbulkan kemacetan sepajang belasan hingga puluhan kilometer.

Proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) sepanjang 30 km dengan moda transportasi jalan raya yang mampu dilintasi 600.000 unit mobil setiap hari dan jutaan orang baik yang menumpang kendaraan mau pun kereta api dipastikan akan menjadi solusi sampai puluhan bahkan seratus tahun ke depan. Sementara itu, moda kapal ferry tetap difungsikan sebagai pilihan atau alternatif bagi para konsumen yang membutuhkannya. Kedua sistem transportasi dengan tiga moda ini (ferry, kereta dan tol) adalah solusi terbaik untuk rakyat dan negara Indonesia. Bahkan dengan proyek JSS ini, pengembangan kawasan sekitar mulut jembatan di Lampung dan Banten akan menjadi nilai tambah yang luar biasa di mana sektor transportasi bisa diintegrasikan dengan sektor industri dalam satu kawasan terpadu.

Manfaat luar biasa lain yang diperoleh dari proyek JSS yang dibiayai investor swasta ini adalah multiplier effects yang sudah akan dinikmati oleh berbagai pihak terutama masyarakat sekitar, belasan hingga puluhan ribu pekerja proyek JSS, para subkontraktor, vendor, dan lain – lain. JSS adalah proyek raksasa dengan manfaat yang luar biasa. JSS proyek megaraksasa yang menjadi ikon kebanggaan nasional Indonesia.

Bagaimana dengan pihak tertentu yang menolak pembangunan JSS ini ? Umumnya mereka terdiri dari para pengamat yang mengkhawatirkan efek samping atau dampak negatif dari pembangunan JSS. Tentu saja jawaban atas keberatan mereka tersebut harus diberikan dalam bentuk minimalisasi dampak negatif seperti dampak negatif terhadap lingkungan, problem sosial, atau pun dampak negatif dari sisi ekonomi. Namun yang sudah dapat dipastikan adalah, dengan pembangunan JSS yang sepenuhnya dibiayai oleh pihak swasta ini, dengan menggunakan metode penilaian apa pun, manfaat yang diraih jauh lebih besar daripada dampak negatifnya.

Jika ada pihak tertentu yang keberatan karena menilai transportasi laut harus lebih diutamakan, jelas sekali pendapat tersebut keliru karena mereka tidak melihat sumber pembiayaan pembangunan JSS yang sepenuhnya swasta. Dalam dunia investasi, minat investor untuk berinvestasi pada suatu sektor tertentu tidak dapat dipaksakan dan pasti selalu merujuk pada pertimbangan bisnis atau untung rugi. Tidak ada investor yang bersedia masuk ke sektor yang pasti merugi atau tidak profitable.

Meski demikian, jika pada pembangunan JSS ini pemerintah banyak memberikan konsesi atau kemudahaan dan fasilitas, sudah seharusnya pula, kemudahan dan fasilitas yang sama diberikan kepada investor sektor lain, termasuk sektor transportasi laut.

Semakin cepat JSS sslesai dibangun, maka semakin cepat rakyat pengguna jasa penyeberangan Sumatera – Jawa berkurang penderitaan rutinnya. Mari kita sambut baik pembangunan JSS karena proyek ini adalah untuk kepentingan kita semua.

Selamat tinggal penderitaan jutaan pelintas Jawa – Sumatera. Selamat datang kenyamanan, keamanan, kemakmuran dan kebanggaan kita sebagai rakyat Indonesia.