Tag

, , ,

image

Kisah tragis seorang anak manusia bernama Antasari Azhar bermula dari kedatangan seorang tamu laki – laki yang bertugas di Badan Intelijen Strategis TNI (Bais) ke ruang kerja Ketua KPK Antasari Azhar pada awal tahun 2009. Kedatangan tamu yang masih punya hubungan kerabat dengan Antasari Azhar tersebut tidak semata – mata bersilaturahim tetapi juga menyampaikan informasi penting kepada Antasari. Namun, mengingat tamu itu hanya sekedar bawahan di Bais TNI, dia berpesan agar Antasari Azhar segera menemui atasannya di kantor pada saat ada acara resmi supaya kedatangan Antasari tidak mengundang tanya tanya dan kecuriaan pihak tertentu.

Informasi dari tamu itu benar – benar mengagetkan Antasari karena terkait adanya rencana “operasi khusus menghabisi” Antasari Azhar yang dilakukan oleh pimpinan instansi tertentu. Penyebabnya adalah karena pejabat tinggi itu marah besar kepada Antasari yang dinilai kelewat batas, menyadap telepon para pimpinan instansi itu dan sejumlah anggota Komisi V DPR yang sedang membahas sebuah RUU.

Meski kaget mendengar info itu, apalagi pimpinan instansi yang dimaksud baru sekitar dua minggu bermain golf bersama – sama Antasari. Sulit rasanya pejabat tinggi itu memiliki rencana untuk “menghabisi” ketua KPK, seperti yang diutarakan oleh sang tamu.

Setelah tamu itu pamit, Antasari segera segera memanggil wakil ketua KPK bidang penindakan dan direktur IT KPK untuk meminta konfirmasi kebenaran info penyadapan yang dilakukan KPK tanpa seizin dirinya selaku ketua KPK. Ternyata jawaban dari kedua pejabat KPK membenarkan adanya penyadapan tersebut.

Kesibukan kerja sehari – hari ternyata membawa malapetakan bagi Antasari. Dia melupakan rencana kunjungannya ke Bais dan kemudian melupakan dugaan adanya sebuah operasi khusus yang mencelakakan dirinya. Baru setelah terjadinya pembunuhan terhadap Nasrudin, Direktur PT. Rajawali Banjaran pada 14 Maret 2009, secara mendadak malapetaka pun segera menimpa Antasari.

Kasus Antasari Azhar disebut-sebut merupakan bagian dari sebuah SKENARIO pembenaman sebuah kasus yang melibatkan banyak pejabat tinggi negara dan anggota DPR, dengan sejumlah konglomerat yang menjadi penyandang dana. Selain terkait dengan kasus pejabat – pejabat negara dan para anggota DPR, kasus Antasari Azhar ini juga merupakan pengalihan isu terhadap beberapa kasus besar lain dan ada yang menuduh merupakan bagian dari politik balas dendam.

Antasari Azhar dikenal cukup berani dalam melawan korupsi, sudah begitu banyak orang yang dipenjarakan sejak Antasari Azhar menjabat sebagai Ketua KPK, tak terkecuali ‘Aulia Pohan’ besan Presiden pun ia jebloskan ke penjara. Namun, bukan hanya kasus Besan yang diduga publik sebagai penyebab Antasari harus disingkirkan, melainkan juga kasus penangkapan jaksa Urip Tri Gunawan dan Arthalita Ayin Suryani yang berujung pada skenario besar pelepasan delik pidana terhadap pelaku – pelaku korupsi BLBI yang merugikan negara Rp. 600 triliun.

OTT KPK pada jaksa UTG dan Ayin yang sedang transaksi suap Rp. 6 miliar itu kemudian berkembang menjadi bencana bagi sejumlah pejabat tinggi di Kejaksaan Agung. Dua orang Jaksa Agung Muda menjadi korban terseret kasus penyuapan UTG itu.

Masyarakat luas boleh saja menduga – duga kasus mana yang menjadi penyebab Antasari dikriminalisasi dan sekaligus menjadi motif sekelompok elit yang menjadi otak kriminalisasi itu. Namun dari sekian banyak kasus yang diduga publik, yakni : kasus Besan, kasus BLBI, kasus IT KPU, kasus Century, Kasus RUU LLAJ, tuduhan bahwa Antasari jadi alat PDIP menghancurkan Partai Demokrat dengan iming – iming bakal jadi cawapres Megawati, dan seterusnya, menurut keterangan Antasari, kasus RUU LLAJ adalah penyebab utama dikriminalisasinya Ketua KPK Antasari Azhar. Sedang kasus BLBI dan Besan hanya merupakan kontributor dalam hal dukungan dana dan restu.

Kemudian, sama – sama kita ketahui, Antasari dituding sebagai otak pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Setelah melalui proses hukum, Pengadilan Negeri Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis 18 tahun penjara terhadap Antasari. Dalam perjalanan kasusnya, banyak sekali kejanggalan-kejanggaln yang kita lihat mulai dari proses penyidikan sampai pada putusan. Meski perkara kasasi Antasari Azhar sudah divonis, namun kasus hukum yang penuh dengan nuansa politik ini terus bergulir dan semakin membesar bagaikan bola salju.

Kini, nasib Antasari Azhar semakin tak menentu menyusul ditolaknya pengajuan Peninjauan Kembali (PK) oleh Mahkamah Agung. Namun, bagi sebagian orang yang tahu persis fakta sebenarnya, pasti berkesimpulan bahwa Antasari Azhar telah dihukum vonis penjara selama 18 tahun untuk kejahatan yang tidak dilakukannya : sebagai otak pembunuhan Nasrudin.