image

Anakku, maafkan ayahmu ini, tahun ini kita tidak boleh takbir keliling”, ujarku kepada putriku si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Dari tadi sore Si Adek, begitu dia biasa dipanggil, sudah berkali -kali sibuk bertanya jam berapa kami akan takbir berkeliling kota Jakarta seperti yang biasa kami lakukan sekeluarga setiap tahun.

“Memangnya kenapa Yah?” dia bertanya penuh keheranan. “Tahun ini Pak Jokowi Gubernur Jakarta melarang takbiran sambil keliling”, jawabku persis seperti ucapan Jokowi yang banyak diberitakan media. “Kok dilarang Yah” anakku terus bertanya. Dia tidak mengerti kenapa tradisi dan syiar Islam yang disunahkan itu bisa dilarang oleh seorang Gubernur. “Ayah belum tahu sebabnya. Tapi kata Pak Jokowi, lebih baik takbir di mesjid dan di rumah saja”, lagi- lagi kujawab seperti yang dititahkan Gubernur Jokowi.

Anakku kian penasaran. Dia tetap tidak mengerti, “Kalau takbiran keliling dilarang, apakah tahun baruan keliling juga dilarang Yah?”, tanyanya mendesak. Aku terdiam. Tidak tahu jawabnya karena memang belum diketahui apakah Gubernur Jokowi juga akan melarang aktivitas pawai rayakan tahun baru berkeliling kota. “Ayah belum tahu. Mungkin juga dilarang karena berbahayaa, rawan kecelakaan” jawabku sekenanya.

Wajah anakku kelihatan murung, matanya berkaca -kaca. Aku tidak tahu apakah dia bersedih karena batal takbiran berkeling kota Jakarta atau sedih karena membayangkan tidak ada lagi suasana kemeriahan malam lebaran dan tahun baru. Tiba – tiba dia bertanya dengan nada tersendat, “Bukankah Ayah pernah bilang takbiran berkeliling kota itu sunah hukumnya? Untuk mensyiarkan agama Islam dan menunjukan kebesaran Islam sebagai agama dan kita sebagai umatnya ?”. Mendengar pertanyaan itu lidahku kelu, mataku memerah, hampir saja aku terbakar rasa marah pada Jokowi yang telah lancang menghapus tradisi pawai takbir yang sudah menjadi tradisi umat Islam di berbagai belahan dunia.

“Trus Yah, kok malam ulang tahun Jakarta, Pak Jokowi bolehkan orang keliling rame – rame ? Pas ada konser musik juga pada rame Yah ? Ga ada tuh dilarang sama Pak Jokowi. Malah dia ikutan nonton dan rame – ramein !”‘ Anakku terus bercoleteh memprotes argumentasiku yang memang lemah.

Sambil menahan kemarahan kepada Jokowi yang kuanggap tidak paham ajaran agama Islam, tidak mengerti ruh dan semangat yang terkandung dalam pawai takbir itu, aku menjawab lirih kepada anakku. “Sebagai umat Islam kita memang harus jalankan syiar Islam dan tunjukan indentitas keislaman kita. Tapi sebagai warga negara, warga Jakarta kita juga harus patuh terhadap pemimpin kita seperti Pak Jokowi”, jawabku dengan harapan penjelasan ini dapat memuaskan hati si bungsu yang sedang galau.

Namun, kelihatannya si bungsu ini masih belum menerima penjelasan yang aku sampaikan. Dia masih penasaran dan butuh jawaban panjang. “Yah, tolong jawab jujur ya. Kalau pemimpin kita ternyata menindas dan tidak suka dengan ajaran agama kita apakah Ayah tetap patuh menerima ?” . Kali ini aku benar – benar terdiam tidak tahu jawabannya. Terasa kerinduanku pada Buya Hamka memuncak. Aku membutuhkan tausyiah dari ulama sekaliber Hamka untuk menjawab pertanyaan anakku sekaligus juga merupakan pertanyaanku, di jaman ketika para tokoh agama, ulama, pemimpin, cendikiawan, akademisi tak berani bersuara, diam membisu, hanya karena takut melawan arus opini utama. Takut tidak populer di mata publik, tetapi mereka semua tidak takut kepada Allah Tuhan Maha Perkasa dan Maha Adil yang akan minta pertanggung jawaban mereka sebagai khalifah di muka bumi.